Jumat, 09 Oktober 2009

Homeschool di Tahun Pertama


Tahun pertama selalu saja menjadi tahun tersulit bagi keluarga 
yang baru memulai homeschooling. Apa yang terjadi di tahun 
pertama ini biasanya akan sangat menentukan apakah sebuah 
keluarga akan terus melakukan homeschooling atau menyerah 
di tengah jalan. Ada beberapa hal yang sering kali dibuat orangtua 
(ehm..iya orang tua bukan anak-anak) yang menyebabkan homeschooling 
hancur lebur di tahun pertama dan menjadi mimpi buruk dalam   
keluarga seumur hidup.

1. Homeschooling dianggap sebagai "memindahkan sekolah ke rumah"
Homeschooling dibuat sebagai replika sekolah dan kadang tanpa sadar 

karena merasa kewalahan, orangtua mulai memperlakukan anak seperti sebagian besar guru memperlakukan murid murid di sekolah. Orang tua cuma memberikan tugas bertumpuk tumpuk dan berharap anak bisa 
dengan segera menguasainya. Orangtua tidak pernah lagi memotivasi ,mengapresiasi, menggugah hati, menginspirasi, menjadi teman diskusi atau bahkan sekedar teman curahan hati.

2. Anak hanya dinilai dari kemampuannya menghafal dan mengerjakan 

matematika
Walaupun dalam homeschooling anak lebih memiliki kebebasan untuk 

merasakan menjadi manusia yang utuh dengan segala kelebihan  dan kekurangannya, bukan "half human" karena ketidakmampuannya, orangtua 
cenderung cuma menghargai anak kalau mereka cepat menghafal,pandai 
mengerjakan matematika dan kalau mereka bisa mengerjakan soal-soal 
dengan baik. Natural interest anak-anak misalnya pada binatang,sepak bola, 
bersepeda, atau bahkan memasak tidak dipupuk malahdiremehkan.

3. Ijasah menjadi satu satunya tujuan
Orangtua yang telah melakukan homeschoolingpun banyak yang tidak 

percaya bahwa apabila kita sebagai orang tua menciptakan lingkungan 
di mana anak bisa tumbuh menjadi "independent learner" maka ujian 
macam apapun juga dari dalam atau luar negeri tidak akan menjadi 
kendala. Orangtua yang hanya menganggap ujian dan ijasah sebagai 
hal terpenting melupakan banyak hal yang seharusnya lebih penting 
ditanamkan misalnya, tanggung jawab, determinasi, persistensi dalam 
berkarya, sikap tidak menyerah, percaya diri, mampu menerima 
kegagalan, bangkit dari depresi, dll. Orangtua yang hanya menanamkan 
bahwa ijasah adalah satu satunya tujuan pembelajaran akan memangkas 
segala potensi yang dimiliki anak dan menghapus cakrawala berpikir mereka.

4. Melakukan homeschooling hanya karena sekolah mahal
Walaupun memang dengan homeschooling banyak sekali biaya yang 

bisa dihemat tanpa mengurangi kualitas belajar anak, orangtua yang 
melakukan homeschooling dengan "mentality" bahwa "seandainya saya 
punya uang saya tidak akan homeschooling" tanpa sadar menanamkan 
rasa rendah diri kepada anak-anak. Anak-anak akan melihat 
homeschooling sebagai tanda ketidakberdayaan, dan ketidakmampuan 
dan selama meraka masih di-homeschool selama itu pula mereka tahu 
mereka adalah masyarakat KELAS DUA. Ini sangat TIDAK BENAR. Jangan 
tanamkan "Kita homeschooling karena kita tidak punya uang" tetapi "Kita homeschooling karena kita sadar bahwa pendidikan yang 
berkualitas tidak ada hubungannya dengan seberapa banyak kita 
menghambur hamburkan uang"

5. Melakukan homeschooling dengan obsesi menjadikan anak `SUPERKID'
Setiap anak lahir baik dan memiliki talenta yang berbeda beda.

Orangtua yang terobsesi menjadikan anaknya yang "TER-" dengan  homeschooling biasanya tidak akan bertahan di tahun pertama dan  homeschooling akan menjadi sejarah. Karena bukannya `celebrating  my child as a unique human being with his own strengths and weaknesses'  orangtua akan menghabiskan hari demi hari marah, tidak puas dan frustasi.

6. Mengaitkan homeschooling dengan cinta dan perhatian
Cinta dan perhatian adalah hak anak betapapun buruknya kinerja  mereka di mata orangtua. Orangtua yang tidak menyadari ini dan  malah mengancam / mengucilkan / merendahkan anak apabila tidak  bisa mengerjakan soal tertentu misalnya, akan mempercepat bubarnya  homeschooling. Sebaliknya orang tua yang tetap menunjukkan cinta, penerimaan dan perhatiannya kepada anak meskipun mereka gagal   

akan terus bertahan.

7. Tidak menerima anak apa adanya
Setiap anak belajar tetapi tidak pada waktu yang sama, kecepatan yang sama atau hal yang sama. Ada anak yang membaca pada usia 2 tahun ada yang baru mulai membaca umur 9 tahun. Ada anak yang  sangat mencintai bermain musik tetapi merasa tersiksa kalau harus  melukis. Ada anak yang tidak menyukai matematika di usia SD tetapi  sangat menonjol matematikanya di usai SMU. Ada anak yang memiliki  kemampuan bermain bola tetapi tidak menyukai science. Orangtua yang  ingin bertahan dalam homeschooling harus belajar menerima anak-anak  seperti adanya mereka, memupuk dan menumbuhkembangkan apa yang  ada di diri mereka bukannya malah mencekoki mereka dengan berbagai  halyang sebenarnya hanya untuk memuaskan ego orang tua.

8. Mengharapkan kesempuranaan Homeschooling
Seperti segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, homeschooling  sangat jauh dari kesempurnaan. Orangtua yang berharap terlalu besar bahwa dalam homeschooling segalanya adalah indah dan sempurna  akan lebih mudah putus asa. Harus disadari bahwa baik orangtua dan  anak-anak tidak terhindar dari perasaan-perasaan  negatif  seperti  capai,stress, bosan, marah, sedih,kecewa, dll. Orangtua yang lebih  terbuka dengan perasaan-perasaan tersebut akan lebih berhasil dalam 

homeschooling.

Sumber: Mba Ines Setiawan dari homeschoolspirit.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar