Minggu, 24 Februari 2019

Tahapan Perkembangan Anak

Setelah memperhatikan dan mengamati pertumbungan serta perkembangan anak sendiri kemudian menelusuri literasi, pengalaman orang lain, fenomena yang terjadi di masyarakat, serta perkembangan zaman, dapat saya simpulkan bahwa tahapan perkembangan anak adalah:

tingkat balita (prasekolah): pengenalan bentuk, warna, rasa, nama misalnya benda-benda di sekitar, makanan sehari-hari, nama-nama objek yang ditemui

tingkat anak (sekolah dasar): pengenalan objek yang lebih luas lagi jangkauannya serta pengenalan diri sendiri dan pengembangan diri melalui gerak dan seni, misalnya olah raga dan seni budaya

tingkat pra remaja (sekolah menengah pertama): pengenalan hal-hal di luar diri tentang berbagai materi dan pengetahuan serta pengenalan berbagai profesi

tingkat remaja (sekolah menengah atas dan kuliah): pengenalan minat pribadi beserta pendalaman minat

tingkat dewasa: pengaplikasian minat serta penyebarluasan manfaat minat

Dengan demikian anak dapat tumbuh dan berkembang dengan bahagia sesuai pencapaiannya masing-masing sehingga proses penemuan jati diri anak diharapkan dapat cepat tercapai sehingga mereka dapat mengetahui manfaat dirinya bagi kehidupan serta fungsi keberadaannya di dunia ini.

Jumat, 09 Oktober 2009

Homeschool di Tahun Pertama


Tahun pertama selalu saja menjadi tahun tersulit bagi keluarga 
yang baru memulai homeschooling. Apa yang terjadi di tahun 
pertama ini biasanya akan sangat menentukan apakah sebuah 
keluarga akan terus melakukan homeschooling atau menyerah 
di tengah jalan. Ada beberapa hal yang sering kali dibuat orangtua 
(ehm..iya orang tua bukan anak-anak) yang menyebabkan homeschooling 
hancur lebur di tahun pertama dan menjadi mimpi buruk dalam   
keluarga seumur hidup.

1. Homeschooling dianggap sebagai "memindahkan sekolah ke rumah"
Homeschooling dibuat sebagai replika sekolah dan kadang tanpa sadar 

karena merasa kewalahan, orangtua mulai memperlakukan anak seperti sebagian besar guru memperlakukan murid murid di sekolah. Orang tua cuma memberikan tugas bertumpuk tumpuk dan berharap anak bisa 
dengan segera menguasainya. Orangtua tidak pernah lagi memotivasi ,mengapresiasi, menggugah hati, menginspirasi, menjadi teman diskusi atau bahkan sekedar teman curahan hati.

2. Anak hanya dinilai dari kemampuannya menghafal dan mengerjakan 

matematika
Walaupun dalam homeschooling anak lebih memiliki kebebasan untuk 

merasakan menjadi manusia yang utuh dengan segala kelebihan  dan kekurangannya, bukan "half human" karena ketidakmampuannya, orangtua 
cenderung cuma menghargai anak kalau mereka cepat menghafal,pandai 
mengerjakan matematika dan kalau mereka bisa mengerjakan soal-soal 
dengan baik. Natural interest anak-anak misalnya pada binatang,sepak bola, 
bersepeda, atau bahkan memasak tidak dipupuk malahdiremehkan.

3. Ijasah menjadi satu satunya tujuan
Orangtua yang telah melakukan homeschoolingpun banyak yang tidak 

percaya bahwa apabila kita sebagai orang tua menciptakan lingkungan 
di mana anak bisa tumbuh menjadi "independent learner" maka ujian 
macam apapun juga dari dalam atau luar negeri tidak akan menjadi 
kendala. Orangtua yang hanya menganggap ujian dan ijasah sebagai 
hal terpenting melupakan banyak hal yang seharusnya lebih penting 
ditanamkan misalnya, tanggung jawab, determinasi, persistensi dalam 
berkarya, sikap tidak menyerah, percaya diri, mampu menerima 
kegagalan, bangkit dari depresi, dll. Orangtua yang hanya menanamkan 
bahwa ijasah adalah satu satunya tujuan pembelajaran akan memangkas 
segala potensi yang dimiliki anak dan menghapus cakrawala berpikir mereka.

4. Melakukan homeschooling hanya karena sekolah mahal
Walaupun memang dengan homeschooling banyak sekali biaya yang 

bisa dihemat tanpa mengurangi kualitas belajar anak, orangtua yang 
melakukan homeschooling dengan "mentality" bahwa "seandainya saya 
punya uang saya tidak akan homeschooling" tanpa sadar menanamkan 
rasa rendah diri kepada anak-anak. Anak-anak akan melihat 
homeschooling sebagai tanda ketidakberdayaan, dan ketidakmampuan 
dan selama meraka masih di-homeschool selama itu pula mereka tahu 
mereka adalah masyarakat KELAS DUA. Ini sangat TIDAK BENAR. Jangan 
tanamkan "Kita homeschooling karena kita tidak punya uang" tetapi "Kita homeschooling karena kita sadar bahwa pendidikan yang 
berkualitas tidak ada hubungannya dengan seberapa banyak kita 
menghambur hamburkan uang"

5. Melakukan homeschooling dengan obsesi menjadikan anak `SUPERKID'
Setiap anak lahir baik dan memiliki talenta yang berbeda beda.

Orangtua yang terobsesi menjadikan anaknya yang "TER-" dengan  homeschooling biasanya tidak akan bertahan di tahun pertama dan  homeschooling akan menjadi sejarah. Karena bukannya `celebrating  my child as a unique human being with his own strengths and weaknesses'  orangtua akan menghabiskan hari demi hari marah, tidak puas dan frustasi.

6. Mengaitkan homeschooling dengan cinta dan perhatian
Cinta dan perhatian adalah hak anak betapapun buruknya kinerja  mereka di mata orangtua. Orangtua yang tidak menyadari ini dan  malah mengancam / mengucilkan / merendahkan anak apabila tidak  bisa mengerjakan soal tertentu misalnya, akan mempercepat bubarnya  homeschooling. Sebaliknya orang tua yang tetap menunjukkan cinta, penerimaan dan perhatiannya kepada anak meskipun mereka gagal   

akan terus bertahan.

7. Tidak menerima anak apa adanya
Setiap anak belajar tetapi tidak pada waktu yang sama, kecepatan yang sama atau hal yang sama. Ada anak yang membaca pada usia 2 tahun ada yang baru mulai membaca umur 9 tahun. Ada anak yang  sangat mencintai bermain musik tetapi merasa tersiksa kalau harus  melukis. Ada anak yang tidak menyukai matematika di usia SD tetapi  sangat menonjol matematikanya di usai SMU. Ada anak yang memiliki  kemampuan bermain bola tetapi tidak menyukai science. Orangtua yang  ingin bertahan dalam homeschooling harus belajar menerima anak-anak  seperti adanya mereka, memupuk dan menumbuhkembangkan apa yang  ada di diri mereka bukannya malah mencekoki mereka dengan berbagai  halyang sebenarnya hanya untuk memuaskan ego orang tua.

8. Mengharapkan kesempuranaan Homeschooling
Seperti segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, homeschooling  sangat jauh dari kesempurnaan. Orangtua yang berharap terlalu besar bahwa dalam homeschooling segalanya adalah indah dan sempurna  akan lebih mudah putus asa. Harus disadari bahwa baik orangtua dan  anak-anak tidak terhindar dari perasaan-perasaan  negatif  seperti  capai,stress, bosan, marah, sedih,kecewa, dll. Orangtua yang lebih  terbuka dengan perasaan-perasaan tersebut akan lebih berhasil dalam 

homeschooling.

Sumber: Mba Ines Setiawan dari homeschoolspirit.blogspot.com

Hakikat Bekerja


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Dan katakanlah. “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya 
serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, 
dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui 
akan yang ghaib dan nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu 
apa yang telah kamu kerjakan”

Q.S. 9 At-Taubah:105

Hakikat Kebajikan


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu 
suatu kebajikan.Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah 
beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab- kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada 
kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang 
memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, menegakkan shalat, 
dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya 
apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, 
penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang 
yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.

Q.S. 2 Al Baqarah:177

Kamis, 05 Maret 2009

Ponari biar bisa tetap praktek, Homeschooling donk!

Fenomena dukun cilik Ponari sebenarnya tetap dapat buka praktek penyembuhan penyakit tanpa harus ketinggalan sekolah atau khawatir dikejar-kejar pasiennya saat ke sekolah. Seperti yang ditayangkan di berita televisi setelah prakteknya ditutup beberapa waktu yang lalu, tampak dalam gambar saat memasuki gedung sekolah Ponari harus berlari tanpa ada yang mengejarnya karena kekhawatiran tersebut. Bagaimana caranya? ya homeschooling donk Pon! pas mau belajar prakteknya ditutup dulu. Jadi modal masa depanmu dapet, pendidikan juga dapet! itu pasien-pasien dibuatin tempat buat nunggu jadi ngga terlantar!

Coba dipikirkan lagi deh. Kalo prakteknya ditutup memangnya yang nyuruh nutup mau biayain Ponari sekeluarga sama biayain sekolahnya ponari sampe dia gede? sampe dia kuliah? bahkan kuliah ke luar negeri? belum tentu kan? tapi kalo dia tetep buka praktek sambil homeschooling kan semuanya dapet tuh! ya thoo?

Kadang-kadang kita suka sok sok an membela Ponari dengan dalih sekolahnya, masa kanak-kanaknya, waktu bermainnya, tapi kita lupa dengan kondisi ekonomi dia sebelumnya, apakah dia mampu membiayai sekolahnya ke depan. Kita cuma protes namun tidak memberi solusi yang dapat membantu mereka.

Selasa, 28 Oktober 2008

Homeschool = Belajar Mandiri

Setelah mempelajari beberapa pendapat dan cara yang ditempuh untuk melakukan homeschooling, saya mengambil kesimpulan bahwa homeschooling artinya sama dengan pembelajaran mandiri. Mengapa pembelajaran mandiri dan bukan hanya belajar di rumah? ya, karena homeschooling itu adalah minat belajar yang datang dari dalam diri sendiri dan karena keinginan yang kuat untuk menambah pengetahuan dalam bidang dan hal apapun dengan cara apapun, di manapun. Dengan demikian ilmu yang diterima dapat diserap dengan lebih cepat dan lebih efektif.



Ketertarikan saya dengan homeschooling bermula dari acara televisi yang sedang meliput mengenai rumah Kak Seto Mulyadi. di situ Kak Seto mengenalkan anaknya yang sedang melakukan homeschooling. Anak itu tidak sekolah di sekolah formal tetapi dapat memperoleh ijazah dan pengetahuan layaknya anak yang sekolah di sekolah formal. Dari situ saya berusaha mencari dan menggali informasi mengenai apa itu homeschooling mulai dari koran, majalah, acara tv, browsing di internet. Hal ini sepertinya menjadi jawaban atas kerisauan dan kekhawatiran saya dengan situasi kehidupan sosial yang terjadi di masyarakat Indonesia. Di mana segala sesuatu tidak terurus dengan baik. Mulai dari sistem pendidikan yang banyak disalahkan oleh berbagai pihak, yang tidak berhasil mencetak murid-murid dan tenaga-tenaga terampil untuk mengurus bangsa ini. Pihak pendidik merasa mereka telah memberikan ilmu mereka dengan sekuat tenaga. Kalau ada permasalahan pada anak didik itu adalah salah orang tuanya yang tidak mendidik dan mendukung penuh pendidikan anaknya di rumah. Karena banyak murid yang berprestasi dan berakhlak baik dikarenakan didikan orang tua yang bijak dan secara penuh pada anaknya. Selanjutnya lingkungan menjadi kambing hitam untuk morat-maritnya kehidupan sosial di masyarakat Indonesia. Kemudian lagi ekonomi yang lemah dari orang tua murid sehingga tidak mungkin mendukung secara penuh pendidikan anak. Terus hingga pada pemerintah yang tidak becus mengurus rakyatnya. Yang terakhir ini bisa sedikit dibenarkan karena pemerintah mempunyai perangkat kekuasaan yang dapat menentukan segala sesuatu dapat menjadi baik atau tidak.

Oleh karena itu homeschool menjadi alternatif pilihan pendidikan anak yang terbaik untuk situasi yang kita alami sekarang ini bahkan mungkin selamanya. Bravo learning! Selamat belajar ya!